Wednesday, May 08, 2013

Reading Ebook


I know reading ebook isn't comfortable. I have several foreign novel in ebook formats (my ebook list here). Mostly in ePub type. ePub is the most comfortable format for reading in iPad, iPhone, iPod, or Android Tablet. Because you can set the font size, themes, etc.

If you're using iOS device (iPad/iPhone/iPod) you can use iBooks for reading ebook. It support PDF and ePub format. Here's the list of application for reading ebook on iOS device:

  • Use Kindle official application to read Mobi format
  • Use Sidebooks to read comic books in CBZ or CBR format
  • Use MangaStorm for reading manga comics. It took manga from some source like Mangafox or Mangahere etc

If you're using Android (tablet or phone) you can use:

  • Aldiko or Moon Reader to read in PDF and ePub format
  • Perfect Viewer to read CBZ / CBR format
  • Quick Manga to read Manga, also taken from Mangafox etc


If you're using PC, easiest to read ePub is using ePub add-ons in browser, Mozilla Firefox or Readium in Google Chrome

This is why epub can be more comfortable :)

But, buying books in store way much better than download and reading a real paper book also better than digital book.

Sunday, May 05, 2013

Ruby Sparks: She's Out Of His Mind


Ruby Sparks
Directors: Jonathan Dayton & Valerie Faris
Written By: Zoe Kazan
Stars: Paul Dano, Zoe Kazan
Ratings: 7,2/10 (IMDB) 79% Certified Fresh (Rotten Tomatoes)


Ruby Sparks is the cutest 2012 rom-com I ever watched. Filmnya lucu, akting pemainnya juga pas dan lucu romantis, ide ceritanya bagus. Ruby Sparks mengisahkan tentang penulis novel, Calvin, yang sedang mengalami writer's block. Dengan typewriter nya ia mulai membangun kisah percintaannya dengan seorang tokohnya, Ruby Sparks. Calvin jatuh cinta dengan tokoh buatannya. Kemudian Ruby tiba-tiba muncul dengan wujud yang nyata, dengan pribadi yang seperti Calvin bentuk di ceritanya. Ruby dapat dirubah menjadi apapun yang Calvin mau hanya dengan menuliskannya ke dalam naskah. Dimulai saat Ruby merasa bosan dan butuh ruang diantara mereka, Ruby mulai menikmati hidupnya sedangkan Calvin merindukannya. Kemudian Calvin mulai merubah-rubah mood Ruby sesuai keinginannya. Sampai akhirnya ia lelah melihat Ruby seperti itu.


Scene-scene nya sangat lucu dan menarik. Chemistry diantara Paul Dano dan Zoe Kazan paaaaaas banget, lucuuuu banget, membuat hubungan mereka terlihat sangat cute dan romantis. Scene paling menarik tentunya saat Calvin sering merubah-rubah mood Ruby. Seperti saat dia menuliskan "Ruby feels miserable without Calvin," kemudian muncullah Ruby yang manja bukan main. Sampai-sampai ia mengekor kemana pun Calvin pergi. Ada adegan lucu waktu Calvin meninggalkannya menyeberang di jalan, kemudian Ruby menangis karena ditinggalkan. Atau saat Calvin menulis bahwa Ruby sedang riang gembira, kemudian Ruby berubah menjadi Ruby yang suka lompat-lompat dan bernyayi terus-terusan.


Lucunya ini mengingatkan saya bahwa kita tidak henti-hentinya ingin membuat orang lain (terutama pasangan atau orang terdekat kita) menjadi seperti yang kita mau, menuruti mood kita. Atau mengingatkan saya pada tagline "careful what you wished for." Setelah orang itu menjadi seperti yang kita inginkan rasanya kita tidak pernah puas ingin mereka menjadi begini, begitu. Pada akhirnya kita hanya ingin mereka jadi dirinya sendiri, karena deep down inside, kita tau kita menyayangi mereka apa adanya mereka. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berubah seperti ini atau itu, atau tanggapan mereka sesuai dengan suasana mood kita. Karena kita tidak akan pernah puas meminta seseorang untuk menjadi apa yang kita inginkan, karena mereka lebih menyenangkan menjadi apa adanya, menjadi diri mereka sendiri.


Quotes:
  • "I cannot help but write this for her, to tell her "I'm sorry for every word I wrote to change you, I'm sorry for so many things. I couldn't see you when you were here and, now that you're gone, I see you everywhere." One may read this and think it's magic, but falling in love is an act of magic, so is writing." (Calvin)
  • "In the luckiest, happiest state, the words are not coming from you, but through you. She came to me wholly herself, I was just lucky enough to be there to catch her." (Calvin)
  • "She's complicated. That's what I like best about her." (Calvin)
  • "I'm such a mess." (Ruby) "I love your mess." (Calvin)


Friday, May 03, 2013

The Hunger Games: Hope is the only thing stronger than fear.


 The Hunger Games
Director: Gary Ross (based on Suzanne Collins' book)
Stars: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci, Elizabeth Banks
Ratings: 7.2/10 (IMDB) 85% Certified Fresh (Rotten Tomatoes)

I watched The Hunger Games last year for the first time. And I already falling love with the story and falling love with Katniss Everdeen (also with Gale a.k.a Liam Hemsworth of course!). Finally, the sequel will out in June, called "Catching Fire", when Katniss and Peeta are going to play 75th Hunger Games again! They said 24 winner will play again in 75th Hunger Games (which I think this is just SICK!). The movie is playing on Fox Movies Premium this week (YAY!). So I'm making the resume about The Hunger Games.

***


The Hunger Games adalah sebuah perlombaan yang di adakan The Capitol, Panem, (somewhere in) North America setiap tahunnya yang pesertanya adalah remaja umur 12-18 tahun dari District 1 - 12. Ini merupakan salah satu penebusan 'dosa' bagi rakyat Panem pada Capitol setelah pemberontakan yang terjadi beberapa tahun silam. Juaranya hanya satu, yaitu ia yang masih hidup setelah semua finalis mati. Ini bukan game pembunuhan, tetapi bertahan hidup. Karena tanpa saling membunuh pun, game ini sudah dirancang oleh Capitol bahwa mereka tidak akan bertahan hidup disana. Bisa karena dehidrasi, keracunan, kedinginan, kelaparan, atau dimakan binatang buas. Yang semuanya sudah diatur oleh The Capitol.


Katniss menjadi volunteer karena adiknya yang masih 12 tahun terpilih untuk mewakili District 12 bersama Peeta. Dengan skill pemburunya, Katniss mendapatkan sponsor terbanyak saat itu. Banyaknya sponsor berarti banyaknya bantuan yang akan datang padanya pada saat game. The best scene adalah saat Katniss berusaha meng-impressed sponsor dengan panah yang tepat sasaran pada apel di lounge sponsors.


Ide cerita yang sangat bagus menurut saya, seperti gambaran negara yang rakyat kecilnya melakukan pemberontakan. Gambaran rakyat kecil yang menjadi bagian dari boneka pemerintahan. Sekali lagi, The Hunger Games adalah permainan bertahan hidup, bukan saling membunuh. Yang menang adalah dia yang dapat bertahan hidup bukan mereka yang paling kuat dan kejam. Adanya secercah harapan merupakan salah satu kekuatan untuk bertahan. Justru dengan berkelompok manusia dapat menjadi lebih kuat, nantinya alam yang akan menyeleksinya sendiri.

***

Quotes:

  • "I just keep wishing I could think of a way to show them that they don't own me. If I'm gonna die, I wanna still be me. Does it make any sense?" (Peeta Mellark)
  • "Okay, listen to me, you're stronger than they are. You are. They just want a good show, that's all they want. You know how to hunt. Show them how good you are." (Gale Hawthorne)
  • "Why do we have a winner? I mean, if we just wanted to intimidate the districts, why not round up twenty-four at random and execute them all at one? It would be a lot faster. Hope. It is the only thing stronger than fear. A little hope is effective. A lot of hope is dangerous. Spark is fine, as long as it's contained." (President Snow)

Wednesday, May 01, 2013

Julie & Julia: Based On Two True Story

Hello!
Finally, I'm back after few months hiatus. I was busy with my Thesis and everything :p. So, in last six months, I was doing my Thesis then I got an A! Straight A GPA in semester 7 hahaha (well actually it was because the subjects that I took were not that hard hehe). I was being Technical Support volunteer for Java Soulnation 2012 and Java Jazz 2013. Met some new people, great people, tired but so much fun. I also playing in my friend's short movie (for her Thesis) being an eating disorder-pregnant high school girl (and I have a scene when I only wore a tube top and covered with blanket! that was sooo awkward hahaha). Alsoooo.... I joined some competition like writing short story about social media to get my short story published in Sitta Karina's short story compilation book from Anak Asyik, and writing a review about book that I read to win The Casual Vacancy from Reading Walk. But I didn't win in both of those competition, well I knew I wasn't that good when writing the short story for Anak Asyik and not that lucky for the Reading Walk competition (but it's okay, because my mom bought me The Casual Vacancy after that! hihi). Back to my blooog, I'm gonna write about Julie & Julia (fyi, in Bahasa :p because my English isn't that good :p). Actually I watched this film since 2010 or 2011 but just re-watch this and got spare time to write.

***


Director: Nora Ephron
Stars: Meryl Streep, Amy Adams, Stanley Tucci
Ratings: 7,0/10 (IMDB) 75% Certified Fresh (RottenTomatoes)

Julie & Julia, film garapan Nora Ephron yang diangkat dari buku Julie Powell merupakan film yang manis, lucu, dan bikin lapeerrr! Bercerita tentang Julie Powell (seperti standar film Amerika lainnya) yang tidak menyukai pekerjaannya. Julie cukup senang memasak, so she did something she enjoys, cook. Tapi kali ini dia akan memasak setiap resep dari buku Julia Child "Mastering The Art Of French Cooking" dalam 365 hari, dengan tujuan akan memotivasi dirinya.


Kemudian film berganti ke cerita Julia Child pada tahun 1950-1960an. Julia Child yang baru ikut suaminya pindah ke Paris juga mencari kesibukkan untuk dirinya. Julia loves foods and eat, so she decided to joined cooking class in Le Cordon Bleu to learn French cooking. Plot film ini maju-mundur dari Julie lalu ke Julia. Kemudian ada kemiripan-kemiripan diantara mereka, seperti mereka punya target yang ingin dicapai dan suami yang sangat support hobi mereka.

Perlahan blog Julie Powell menjadi terkenal, dari mendapatkan 1-2 komentar sampai dibahas di The New York Times dan menarik para jurnalis serta publisher. Sedangkan Julia Child yang niat awalnya hanya ingin mengajar American woman to cook French cooking, ia diajak oleh kedua temannya untuk ikut menulis buku masakan tentang memasak makanan Prancis untuk wanita Amerika. Walau sempat ditolak oleh penerbit sasarannya, namun akhirnya penerbit Alfred A. Knopf tertarik untuk menerbitkan buku tersebut dengan merubah judulnya menjadi "Mastering The Art Of French Cooking" 


Menariknya, Julie dan Julia seperti punya kesamaan disini. Mereka sama-sama suka makanan, mereka suka masak, mereka bikin buku. Julie & Julia taught me that passion is something that keep you alive. Padahal awalnya target mereka sederhana, mau ngajar dan mau ngeblog satu tahun secara konsisten. Tapi begitulah kalau kita sudah hidup dengan passion kita, kesuksesan biasanya menyusul. Tentunya butuh ketekunan untuk jadi sukses. Julia memang sepertinya sudah berbakat dengan urusan makanan, tapi bukan berarti orang tidak pernah merendahkannya. Sedangkan Julie, tidak sekali dua kali masakannya hancur berantakan, dikecewakan, putus asa, sampai menerima kritik dari Julia Child sendiri. Tapi karena mereka menyukainya, mereka tidak berhenti belajar dan mencoba. Who cares with those people who break you down, what matters is you, how far you'll fight, what's inside your head. Ditambah mereka punya suami yang mendukung hobi mereka, makes everything sounds easier. Satu hal yang saya suka dari inti cerita ini: Do what you love, you will find joy and it keeps you alive.

***

Quotes:

  • "You are the butter to my bread, the breath to my life" (Paul Child & Julie Powell) 
  • "What is it you really like to do?" (Paul Child) "Eat!" (Julia Child) 
  • "Julia Child in your head is perfect" (Eric Powell)

Tuesday, November 20, 2012

Resensi Buku: Antologi Rasa


Hi, sekian lama nggak pernah nulis resensi buku lagi di blog. Ini resensi tentang salah satu novel favorite saya “Antologi Rasa” karangan Ika Natassa. Selain itu resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com . Untuk yang belum tau, ReadingWalk.com adalah online delivery book rental.

Ini cerita klasik tentang kaum urban yang sukses dalam karirnya, namun hidupnya terasa belum sempurna. Menghadapi persahabatan dan percintaan yang saling silang, kusut bak benang kusut antar tokohnya. Biasanya saya kurang suka dengan cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama karena ini berarti keseluruhan cerita terpaku hanya pada pemikiran seseorang. Tapi tidak dengan “Antologi Rasa.” Novel ini bercerita dari sudut pandang ketiga tokoh utamanya: Keara, Ruly, dan Harris yang tentunya menjadi obyek utama dari kemelut antara persahabatan dan cinta yang dibahas dalam buku ini. Dari sudut pandang yang berbeda, pembaca bisa melihat bagaimana pandangan sebuah cinta dan persahabatan dari segi perempuan dan laki-laki, dari seorang sederhana dan metropolis, dari lagu-lagu galau versi John Mayer sampai band-band pop melayu yang marak di acara TV lokal.

Dengan bahasa yang lugas khas pop metropolis, pilihan kata yang sangat baik, dialog yang lucu dan smart, serta alur yang mengalir, Ika berhasil membawa pembacanya ikut merasakan apa yang dirasakan atau apa yang dipikirkan tiap tokohnya. Realistis, tidak mengada-ada, namun tetap bisa merasakan ‘kegilaan-kegilaan’ orang yang jatuh cinta tapi bertepuk sebelah tangan. Meski beberapa umpatan kasar cukup banyak memenuhi buku ini yang mungkin untuk pembaca yang kurang suka dengan umpatan-umpatan tidak senonoh mengganggu.

Membaca novel ini saya bisa ikut merasakan kesedihan Keara (yang meski tangguh ternyata ada sisi mellownya juga), Harris yang setengah ‘gila’ kalau sudah berhadapan dengan Keara, ke-galau-an Ruly yang cinta banget sama Denise padahal Denise sudah bersuami sampai-sampai Ruly nggak pernah sadar kalau cewek nyaris sempurna kayak Keara setengah mati tergila-gila padanya. Walaupun hampir seisi buku isinya tentang ‘rasa’, tetapi Ika mengemasnya dengan baik dan tidak murahan. Mellow tapi realistis, sedih tapi nggak cengeng, dan sangat dewasa.

Inti ceritanya memang klasik, tapi dengan gaya penceritaan Ika yang bikin pembacanya bakal senyam-senyum sendiri atau mengumpat “anjir, bener banget!”, novel ini berhasil mengacak-acak emosi pembacanya serta merupakan salah satu cerita pop culture yang wajib dibaca. 

KETERANGAN BUKU:
Judul: Antologi Rasa
Penulis: Ika Natassa
Bahasa: Indonesia
Genre: fiction, chicklit, drama, romance
Rating Goodreads: 3.69/5
ReadingWalk Shelf: http://www.readingwalk.com/book/antologi-rasa

Wednesday, November 14, 2012

'The Perks Of Being Wallflower' Review


Dear Friend,

I just finished “The Perks of Being Wallflower.” It was so good.
Meski di tengah-tengah gue agak boring, karena sebenarnya konflik yang diangkat cuma gitu-gitu aja. But, it was so real, apa ya… sangat remaja. Simple, tapi rumit.  Karena begitulah kira-kira problema di umur belasan tahun, nggak kurang, nggak lebih. Tentang persahabatan, family drama, dan dunia remaja lainnya kayak musik atau film atau drugs dan sex. Everybody wants to run from their life, while there are many people with bigger problem. Ini berbeda dengan cerita-cerita remaja biasanya yang bertumpu pada pertemanan, merebutkan sesuatu, atau high school craziness (ada yang popular, ada yang cupu, drugs, sex). Berbekal dari sudut pandang Charlie, while he was not wild but not a nerds either.

Gue suka Charlie.
Dia sangat polos, cerdas, sensitif, dan baik hati. Charlie punya selera musik dan film yang bagus dan suka literatur. Dan beberapa kali, saya bisa merasakan apa yang dirasakan Charlie. Seperti yang dia bilang, “I know Patrick will be around, … but I’m afraid he won’t want to spend time with me.” atau “I thought about the word ‘special.’ And I thought the last person who said that about was my Aunt Helen. I was very grateful to have heard it again. Because I guess we all forget sometimes. And I think everyone is special in their on way.” dan masih banyak lagi pikiran-pikiran atau rasa penasaran Charlie terhadap hal kecil yang setiap kali baca gue kayak yang, “Ha! Iya banget nih!” :))

Everybody loves him. Eventhough his relationship with his sister wasn’t that good (but not bad either!), but I can feel they loved each other, ‘cos they were family, and that just the way it is. When he was about to hug his sister because he felt so loved. When he hugged every family member, ‘cos he loved them very much. Or he cried when he felt guilty. He liked his teacher, because his teacher knew that he’s so intelligent, and the teacher told him that he was special. The way his teacher gave him books to read. The way he really loved his Aunt Helen.

These simple things are really touching. Because sometimes we forget that small simple things makes us happy and grateful. Like its said, “When all one requires is that perfect song on that perfect drive to feel infinite.” “But Charlie can’t stay on the sideline forever. Standing on the fringes of life offers a uniqe perspective.”

Since I lived in Indonesia, so the movie haven't appear in cinema, yet (probably won't). I really wanna watch the movie, because Emma Watson played as Sam and Logan Lerman as Charlie. And Rotten Tomato said it's fresh. :)

Tuesday, August 21, 2012

Lebaran 2012



Hi readers,
Dengan ini saya mengucapkan mohon maaf lahir & batin ya jikalau post-post disini kurang mengenakkan. Dan bagi yang muslim, Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT. :)

Btw, lebaran adalah salah satu hari yang saya suka (terlepas dari suara petasan yang annoying). Semua keluarga berkumpul, gema suara takbir yang setahun cuma dua kali itu (Idul Fitri dan Idul Adha), sholat ied, dan benar-benar merayakan hari kemenangan setelah 30 hari puasa. Terutama pas keluarga yang pualing besarnya halal bil halal, ketemu keluarga-keluarga jauh yang ketemu cuma setahun sekali mungkin hahaha. Dan nggak lupaaaa... amplop lebarannya seru banget! Kayaknya cuma keluarga saya ya yang sampai yang udah kerja aja suka masih dapet, walaupun nggak semua om dan tante ngasih sih hahaha. Dan semakin besar tingkat sekolah, semakin besar jumlah yang di dapat. YAY!!! Pasti ada yang pengen nih masuk keluarga gue ya? Hahaha.

Nggak terlepas juga dari beberapa pertanyaan kayak "Kapan skripsi?" "Kamu semester berapa?" "Kamu pacarnya mana?" "Kamu kapan nikahnya?" "Udah kerja belom?" dan tahun ini pertanyaan berulang-ulang buat saya adalah... "Kamu masih sama pacar yang gendut? Nggak mau ganti?" -____-




Friday, July 20, 2012

Find Your Happiness


When I read Antologi Rasa by Ika Natassa, there was a line that will always keep spinning in my mind, "Find your own happiness" -Dinda. So I made this list, to remind me that money can buy happiness, but money can't find your happiness. Maksudnya, uang bisa membeli kebahagiaan tapi nggak serta merta kita menemukan kebahagiaan tersebut dari sesuatu yang telah kita beli.
This is it! list of my happiness:
  1. Tidur dgn seluruh badan tertutup selimut, subuh-subuh, di luar hujan, no need to wake up early, ngulet-ngulet di kasur
  2. Kumpul sama teman-teman kesayangan sampai larut, ketawa-ketiwi main ceng-cengan
  3. Liat gol cantik hasil kerjasama tim dari tim jagoan. The art of sport.
  4. Codingan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, because you know your logic was right.
  5. Berhasil menyeimbangkan kopling, gas, rem dan memutar-mutar stir, because you know you're taking control.
  6. When a toddler call your name then (s)he run and hugs you, because (s)he knows that you love her/him and (s)he loves you too.
  7. Menemukan lagu yang pas untuk membangkitkan mood menulis atau berkhayal dan menemukan kalimat untuk ditulis.
  8. Get replied text from our crush.
  9. Mendengar suara hujan, Mencium bau tanah setelah hujan, lihat pelangi.
  10. Tidur di bus kota yang ACnya kenceng di saat macet.
  11. Bersepeda sore-sore.
  12. Menemukan sebuah filosofi dari scene atau dialog tolol dalam film comedy.
  13. Merasakan air pertama yang masuk ke kerongkongan setelah seharian berpuasa.
  14. Mengetik di komputer dengan font ketikan yang asik.
  15. Feels good after helping people. Orang yang benar-benar butuh.
So, what's your list? :)

Thursday, July 12, 2012

I Do What I Do For Living

I remember when somebody asked me, "Sebenernya kuliah lo ini sesuai dengan passion lo nggak sih?" and I said "Yep, it is."

My passion is on writing, and reading, and watching. Kenapa gue nggak sekolah sastra aja sih? Atau gue nggak sekolah komunikasi kalo suka dunia publikasi, kreatif, dan tulis menulis?
Dari awal gue masuk IPA, gue pengen masuk IT. Kenapa? Karena pada dasarnya gue suka teknologi, gaji dan karirnya lumayan, fleksibel bisa di jenis kantor mana aja (kedepannya gue lebih pengen freelance atau jadi entrepreneur makanya pengen lanjut sekolah bisnis hehe). Like Dick Avery said in Funny Face, "I do what I do for living. It has to do with supply and demand." Sebenarnya, hampir semua jurusan sih gitu ya.. tapi berhubung gue dari IPA dan ogah belajar ilmu IPS lagi jadi terdamparlah gue disini.

I do love Information Technology, but not the code thingy. Ya, coding sih harus bisa ya. Gue bukan nggak suka coding, coding itu susah, I'm pretty sure nobody love it (kecuali yang emang computer geek sejati). Dunia IT lebih dari sekedar coding dan typing. Merancang sebuah program bukan hanya seperti lo code HTML di blog atau forum. It's more than that. Gue sih lebih suka analisis dan perancangan sebuah aplikasi, lebih susah malah karena lo musti mikirin hampir keseluruhan alur program dan hal-hal terkecil sampai lo mikirin bagaimana aplikasi lo itu user friendly. Semester lalu gue dapet magang, di kantor bokap gue, tugas gue simple: bikin user interface aplikasi Android. Enaknya, gue nggak pergi ngantor, jadi bisa kerjain di rumah aja karena tugasnya begitu hehe. Kemudahan membuat UI adalah, logika yang dimasukkan ke dalam code tersebut tidak begitu banyak dan lo hanya bertumpu pada widget-widget yang disediakan. Karena ini Android, ada library-library tertentu yang berbeda dengan Java biasa. Gue belajar dari teman sedikit dan baca-baca buku. Bagian tersulit adalah waktu lo bikin laporan, karena ini proyek object oriented, maka gue harus bikin beberapa diagram untuk menunjang program gue ini. Susah, stress, tapi seru dan puas.
Bahkan waktu nyari proyek skripsi, gue yang berencana ambil non-class (beda dengan tema yang ditentukan dan harus inovatif) gue dengan semangat mencari ide apa yang akan gue buat. Cuma, gue masih belom mau keluar dari comfort zone, inovatif sih inovatif tapi kalo nggak kebayang buatnya susah juga buat lulus skripsi hehehe.

"Gue mau kerja yang bisa support hobi gue." Buat gue, menulis itu hobi, gue nggak mau menjadikan itu kerjaan. I don't even know why. Mungkin field yang berebutan dan otak yang dituntut harus selalu kreatif. Gue nggak mau nantinya menulis kayak robot. Gue pengen bebas. Biarlah gue menjadi seperti robot di dunia IT untuk menunjang hobi-hobi gue nantinya. Kalo kata Keara di Antologi Rasa, "Passion itu yang menjaga lo tetap waras di tengah-tengah hidup lo yang semerawut ini."


Saturday, July 07, 2012

Easy A Line

Whatever happened to chivalry? Does it only exist in 80's movies? I want John Cusack holding a boombox outside my window. I wanna ride off on a lawnmower with Patrick Dempsey. I want Jake from Sixteen Candles waiting outside the church for me. I want Judd Nelson thrusting his fist into the air because he knows he got me. Just once I want my life to be like an 80's movie, preferably one with a really awesome musical number for no apparent reason. But no, no, John Hughes did not direct my life. - Olive Penderghast


This one is my favorite line in Easy A. Especially this line, "I want Judd Nelson thrusting his fist into the air because he knows he got me. Just once I want my life to be like an 80s movie. But no, John Hughes did not direct my life." Because I remember how Judd Nelson's character in The Breakfast Club and then he got Molly Ringwald in the end of film. Yeah, sweet,


Film-film 80-an yang disebutkan Olive punya scene-scene cukup sweet yang bikin kita terkenang-kenang setiap habis menontonnya (serta cuma bisa kita nikmati sambil mupeng-mupeng di film karena kalo terjadi di real life pasti jadi drama abis hahaha).

Dan di akhir scene, anti-klimaks yang bagus dan lucu, Todd (Penn Badgley) berdiri di depan rumah Olive kayak film Sixteen Candles, ngangkat mini speaker yang di colok ke mp3 player kayak John Cusack, lengkap dengan alat pemotong rumput kayak Patrick Dempsey, kemudian mereka motong rumput dan angkat tangan ke atas persis kayak Judd Nelson di The Breakfast Club. :-)

Wednesday, June 20, 2012

Sedikit Curhatan Pengguna Transportasi Umum





Saya mau bercerita tentang pengalaman saya menggunakan transportasi umum di Jakarta, khususnya tentang bus antar kota. Rumah saya berada di daerah Bekasi dan sehari-hari saya menggunakan bus kota untuk beraktifitas.

Ceritanya, Sabtu kemarin saya dan R naik bus patas AC 05 jurusan Bekasi Barat – Blok M. Dan malam itu (sekitar jam 7 atau 8) rupanya masih ramai penumpang yang hendak pulang ke Bekasi. Daripada kemalaman, kami naik saja walaupun harus berdiri sepanjang perjalanan. Toh AC-nya lumayan kencang juga. Tapi yang buat saya kesal naik angkutan umum patas begini, kenek atau supirnya selalu menyuruh kita untuk terus berdiri ke tengah, sehingga semua orang bisa masuk. Bukan menyuruh sih, lebih tepatnya terus memaksa kita untuk berdiri ke tengah bus, berrrrkali-kali mereka nyuruh kita. Padahal isi di dalam sudah padat sekali. Belum lagi nanti pengamen yang berada di tengah, sedikit mengganggu kenyamanan dalam bus. Lalu, nanti si kenek akan berjalan dari depan ke belakang menerobos padatnya penumpang yang berdiri di tengah-tengah karena tidak kebagian tempat duduk itu. Menyebalkan bukan? Kami tidak masalah berdiri sepanjang jalan, tapi jangan perlakukan kami kayak barang yang dipaksa untuk bertumpuk-tumpuk dalam ruang sempit! Lagipula, kalau kapasitas bus tersebut melebihi yang seharusnya juga membahayakan bukan? Saya sampai bingung, kenapa sih mereka ini suka maksa untuk menuh-menuhin bus kalau memang sudah tidak muat lagi? Apa bayaran mereka kurang? Kejar setoran? Atau kasihan sama yang nunggu di halte?

Saya pernah naik bus patas P6 (setelah Busway koridor IX beroperasi patas ini tidak ada lagi) jurusan UKI-Grogol. Waktu itu pagi-pagi sekitar jam 6 pagi saya mau berangkat ke kampus. Seperti biasa, kenek dan supir memaksa penumpang yang berdiri untuk terus memadatkan bus ke tengah, padahal bus sudah padat banget! Sampai akhirnya ada bapak-bapak marah ngebentak si kenek, “Mau ke tengah gimana lagi?! Nggak liat udah padat gini?!!” Walau tetap nggak bergeming, emang harus digituin kali ya sekali-kali?

Teman saya, pernah naik bus Jepang nomer 46 (dulu sebelum Busway koridor IX trayeknya UKI-Grogol juga). Bus ini terkenal paling gila supir-supirnya dalam menyetir. Sabet kanan-kiri, ngerem mendadak, gokil lah. Dia cerita, waktu dia naik bus ini, supir ambil jalur busway. Terus, si supir ini mau pindah ke jalur biasa nggak nunggu jalur busway itu keputus, iya langsung pindah dari trotoar jalur busway! Dengan postur bus yang suka miring itu sih, ngeri ya kalo dipikir-pikir. Terus keneknya ngomong sama supirnya, “Tahan ya rem-nya! Kalo nggak kebalik ini!” Kebayang nggak sih ngerinya?! Spontan semua penumpang panik lah pada baca-baca doa! Untung nggak kebalik jadinya! Oh ya, temen saya ini juga pernah loh jadi korban pan*atnya digesek-gesek sama bapak-bapak mesum menjijikan!

Naik busway? Jujur aja saya capek nungguinnya (dan naik tangga penyeberangannya sih hehehe). Terutama koridor IX, lamaaa banget! Entah apa yang bikin Grogol dan Tomang itu parah banget macetnya. Padahal kalau dihitung-hitung bus koridor IX itu udah banyak banget. Nunggunya bisa hampir 30-60 menit, shelter udah padat, bus datang cuma satu sampai dua, itupun udah padat banget. Nggak jadi aman dari kriminal juga kayak pencopetan atau pelecehan seksual. Tapi saya setuju dengan program “Ladies Area” nya Transjakarta, yah paling tidak kita nggak nempel-nempel sama laki-laki deh (cocok juga tuh buat yang islamnya totok banget yang anti bersentuhan sama bukan muhrim hahaha). Yang bilang peraturan “Ladies Area” ini bikin kita (perempuan) nggak dewasa atau nggak independen, pasti belom ngerasain rasanya digesek-gesek sama laki-laki mesum yang menjijikan.

Berbagai macam orang ada di angkutan umum Jakarta, khususnya bus. Pengalaman lain saya antara lain ketemu preman yang jadi pengamen terus minta duitnya secara nggak langsung maksa, preman yang beraksi ‘debus’ pake silet, nyaris dicopet (tapi alhamdulillah kepergok dan dia ngurungin niatnya), pengamen yang mukanya kena tumor street dance di bus, sampai diturunin seenaknya sama supir (nggak di tempat yang bener dan nggak full stop kendaraannya kan bahaya).


Sejatinya, angkutan umum haruslah nyaman dan aman ya. Yang saya kurang suka dari angkutan umum ya buang waktu untuk nunggunya itu, bikin susah tepat waktu, kita jadi harus berangkat lebih cepat dari rumah. Aman? Harus! Ini menyangkut nyawa dan hak keselamatan & kesehatan kita. Nyaman? Hmm.. menurut saya ini susah. Coba bayangin, dari Grogol sampai UKI kita cuma bayar Rp 2,000. Nggak mungkin kan di fasilitasi AC dan mau nggak mau harus bercampur dengan orang-orang dengan strata sosial tertentu. Tapi coba liat kalau naik patas AC 29 (Bekasi Barat-Kalideres), bayar Rp 7,000 (yang mana termasuk harga tertinggi untuk ukuran patas AC yang harusnya cuma Rp 6,500 karena tolnya sama), tapi AC-nya nggak berasa, kadang bocor malah, udah nggak layak banget busnya. Padahal penumpangnya selalu padat, uang untuk pemeliharaannya kemana ya? Ingat cerita anak Trax di twitter yang liat orang dibunuh di kereta? Kerta juga gitu, kereta ekonomi cuma Rp 1,500. What do you expect? Saya pernah naik dari Bekasi ke Stasiun Kota, isinya penuh tukang jualan dari sayur sampe jepitan-jepitan perempuan. Ya wong cuma Rp 1,500 gitu.

Semakin lama, saya semakin tau selahan gimana biar bisa nyaman di jalan. Angkutan umum yang nyaman dan aman itu banyakan rutenya yang ke Sudirman (Blok M atau Tanah Abang), karena supaya mereka laku sama orang kantoran. Makanya sekarang rute saya sering ke Sudirman dulu untuk ngejar bus yang langsung ke Bekasi Barat daripada harus jadi pepes di patas-patas dari Grogol atau sakit hati nungguin Busway (iya, rasanya tuh kayak nungguin yang nggak pasti tau nggak! :p). AC 05 juga mulai bagus semenjak banyak pesaingnya kayak Trans Kemang Pratama, AC 05A Harapan Indah, Trans Galaxi, yang jauuuh lebih nyaman (karena isinya banyakan orang kantoran) meskipun lebih mahal. Buat saya sih mahal sedikit beda 2000-3000 yang penting nyaman dan bisa tidur ya nggak papa lah. Berdiri di bus-bus feeder komplek pun lebih enak daripada bus patas biasa, ya nggak ada yang suka maksa-maksa ke tengah sih, dan bebas pengamen (kadang malah dikasih bangku bakso untuk duduk).

Nah, menurut saya, supaya masyarakat kelas menengah yang bisa beli banyak mobil itu mau naik angkutan umum (biar nggak padat-padatin jalanan Jakarta), harus di support bus-bus kelas menengah juga (atau kereta) yang aman, nyaman dan kalau bisa sih nggak buang waktu untuk nunggu lama. Supaya mereka mau naik angkutan umum. Toh, kayak feeder-feeder busway dari komplek pinggiran Jakarta itu biayanya Rp 10,000 sampai Rp 12,000 penuh terus kok tiap hari. Pembagian kelas sosial ini emang nyata adanya, jadi jangan sok bilang nggak berbaur, nyatanya dalam kondisi tertentu memang terlalu malas untuk berbaur. Bus-bus yang cuma 2000-an yaa yang penting supirnya aja sih dididik untuk nyetir yang aman.

Kemarin liat baliho tentang rencana pembangunan jalan layang di daerah Gatot Subroto, gimana pada mau naik angkutan umum, daripada support perbaikan angkutan umum rupanya lebih manjain masyarakat untuk naik kendaraan pribadi. Sampai kapanpun kepadatan akan terus bertambah juga.

Saya sendiri nggak munafik, nggak akan nolak sih untuk naik kendaraan pribadi kalau punya mobil lebih dari satu. Tapi kadang naik transportasi umum bisa lebih cepat kok, karena kalo udah kepepet bisa turun terus naik ojek hehehe. Kalau naik mobil? Mau tinggalin mobilnya ditengah jalan pas kejebak macet? Tapi kalau kondisi transportasi umumnya begini, kemana tempat kita mengadu untuk dapat hak keamanan dan kenyamanan di transportasi umum? 

Tuesday, May 29, 2012

Stepmom: Be there for the joy. Be there for the tears. Be there for each other.


Director: Chris Colombus
Stars: Julia Roberts, Susan Sarandon, Ed Harris
Rating: 6.2/10

Stepmom adalah salah satu film Julia Robets favorite saya setelah Pretty Woman, Mona Lisa Smile dan Eat Pray Love.

Menceritakan Isabel Kelly (Julia Roberts), fotografer professional, gambaran perempuan modern, masa kini abis, yang menjalin hubungan dengan seorang duda dengan dua anak, Luke Harrison (Ed Harris). Tidak ada anak yang dapat dengan mudah merima bahwa orang tuanya berpisah dan salah satunya akan menikah dengan orang lain. Yang artinya akan ada orang lain masuk, dan berusaha menggantikan posisi ibu mereka. Belum lagi dengan ibu kandung mereka, Jackie (Susan Sarandon) yang tidak suka dengan Isabel. Berbeda dengan Isabel, Jackie adalah gambaran seorang ibu yang konservatif dan bijak. Isabel hanyalah seorang wanita karir yang belum siap untuk memiliki anak, namun keadaan memaksanya untuk masuk ke dalam keluarga Luke, yang berarti ia harus siap untuk mengurus dan mendidik anak.



Anna Harrison adalah seorang gadis belia yang pengetahuan dunia orang dewasanya sudah cukup banyak, namun tetap dengan keluguan anak kecil. Ia keras dan tidak akan pernah suka dengan Isabel. Berbeda dengan Ben Harrison, Ben hanya anak laki-laki dengan keluguannya tidak begitu mengerti akan komplikasi dunia orang dewasa. Ia cukup senang dengan Isabel, namun ia lebih menyayangi ibunya dan akan menuruti apapun yang diinginkan ibunya agar ibunya bahagia.

Kecemburuan Jackie membuatnya tak pernah menyukai Isabel, apapun alasannya. Ditambah lagi dengan ketidaksiapan Isabel untuk mendidik anak-anaknya. Namun dalam mendidik anak, tentu sebagai orang tua Jackie tidak bisa mendidik anak-anaknya tumbuh dengan rasa benci. Ia harus menjadi seseorang yang bijak, sebagai contoh, bahwa mereka harus menerima Isabel masuk dalam kehidupan mereka karena ayah mereka mencintainya. Ketika kanker yang menggerogotinya, hanya ada satu pilihan kemana ia harus menitipkan anak-anaknya kelak. Rasa takut menghantui apabila anak-anaknya melupakannya.


Seperti dongeng Cinderella, gambaran ibu tiri adalah wanita jahat yang tidak bisa menyayangi anak tirinya seperti anaknya sendiri. Tapi cerita ini berbeda. Film ini menggambarkan bagaimana sulitnya calon ibu tiri masuk ke sebuah keluarga. Bagaimana agar dia diterima. Dan mempersiapkan diri mengemban tanggung jawab barunya. Isabel memiliki perbedaan yang kontras dengan Jackie. Kedua wanita yang sebenarnya tidak saling suka ini harus men-kesampingkan perbedaan-perbedaan diantara mereka demi masa depan anak-anak mereka.

Film yang buat gue sangat menyentuh. Bagaimana seorang ibu yang harus membuang rasa insecure-nya sejenak demi menjadi contoh yang bijak bagi anak-anaknya. Bagaimana seorang perempuan muda mempersiapkan dirinya menjadi seorang ibu, dan sulitnya masuk dalam keluarga tersebut. Mantan istri yang tidak menyukainya, insecure karena posisinya. Anak-anak yang tidak pernah bisa menerimanya. Dan pada akhirnya, mereka harus menerima keadaan. Posisi Jackie yang divonis hidup tak lama lagi, mengharuskan ia dan anak-anaknya menerima Isabel, juga memaksa Isabel siap menjadi seorang ibu.

Mengutip komentar Glyn Ingram pada IMDB, "This is a film about a mental battle between two independent women, but it's also about tragedy and its consequences. It's much too soft round the edges for its own good, resulting in a movie that, whilst touching, sad and emotional, still lacks a little maturity."


Isabel: You know, I never wanted to be a mom. Sharing it with you... that's one thing. It's another to be looking over my shoulder for the next twenty years, knowing someone else would have done it better... someone else would have done it right.  
Jackie Harrison: What do you have that I don't?  
Isabel: You're Mother Earth, incarnate.  
Jackie Harrison: You're... hip, and fresh. 
Isabel: You ride with Anna.   
Jackie Harrison: You'll learn.  
Isabel: You know every story, every wound, every memory. Their whole life's happiness is wrapped up in you... every single second. Don't you get it? Look down the road to her wedding. I'm in a room alone with her, fixing her veil, fluffing her dress, telling her no woman has ever looked so beautiful. And my fear is she'll be thinking, "I wish my mom was here." 
Jackie Harrison: And mine is... she won't. 
Jackie Harrison: The thing is, they don't have to choose. They can have us both. I have their past, you can have their future.  


Ben Harrison: Mommy... 
Jackie Harrison: What, sweetie? Ben Harrison: If you want me to hate her I will.