Mothers

, by Aqessa Aninda

Post kali ini gue bukan mau menulis tentang bunda gue. Bukan beliau tidak special, tapi gue pengen cerita seorang ibu lain. Bundaku amazing, bisa apa aja, dan gue ingin seperti beliau nanti. Bunda galak dan panikan. Bunda itu wanita karir, tapi ngurus urusan rumah tangga juga. Bunda jago nyetir tapi tau rute bus kota juga. Bunda jago main piano, bernyanyi dan sedikit main gitar. Tapi gue nggak mau jadi bunda yang (kadang) cengeng, mellowdramatic dan kasar. Kami dekat, tapi yaa gue nggak pernah cerita banyak masalah-masalah gue ke beliau karena beliau bisa jadi orang yang paling sok tau. Beliau pasti tau ketika gue ada masalah, begitu sebaliknya, tapi kami tidak pernah membicarakannya. My mother is amazing, enough said.

Dan seorang ibu yang lain. Salah satu anggota keluarga besar gue. Rahimnya memang tidak pernah melahirkan seorang anak, tetapi ia merawat seorang anak laki-laki dari ia bayi sampai besar sekarang. Teringat waktu beliau kehilangan suaminya saat gue masih TK. Sejak itu beliau mengurus anaknya sendirian, dibantu oleh eyang. Beliau berjuang sendirian memenuhi kebutuhan keluarganya, agar anaknya dapat hidup layak dapat pendidikan yang layak. Bahkan dari semua sepupu, dialah yang paling diperhatikan eyang uti. Tapi apa yang didapat? Justru anak ini membangkang. Bahkan sekarang ia pergi dari rumah, kembali cuma untuk minta uang, bolos kuliah. Sejak SMP anak ini memang bermasalah, ada saja kebandelannya. Kasian kalo liat ibunya sekarang. Padahal semua orang perhatian sama dia. Bahkan dia yang paling diperhatikan eyang dari kecil, padahal bisa dibilang dia bukan anak kandung. Bunda bilang hal itu memang biasa terjadi pada anak angkat, mereka mencari identitas diri, mencari identitas aslinya. Tapi yang nggak pernah gue abis pikir kok nggak ada terima kasihnya sama ibu? Ibu yang kerja, single parent untuk menuhin kebutuhannya dari primer sampai tersier. Ibu yang sekaligus harus mendidiknya supaya nggak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Ibu yang selalu menangis ketika ia melawannya. Ibu yang selalu sayang sama dia meski dia bukan dari rahimnya. Ibu yang bahkan ketika dia kembali kemarin masih mau ngasih uang untuk dia hidup. Semoga Allah beri jalan untuk sembuhin otak lo dimanapun lo berada. Bahwa ibu lo yang ini, selalu ada untuk lo, selalu berjuang untuk elo, hargai meski darahnya tidak pernah ada dalam darah lo. Bude, aku tau, kelak bude akan berada di tempat yang amat mulia disisi-Nya. :')

0 comments: