Dream Big

, by Aqessa Aninda


Apa cita-citamu?

Jawaban waktu SD: Guru. Sebabnya adalah waktu kecil gue sangat bawel dan senang menulis di papan dengan kapur, mungkin untuk bisa nulis di papan dengan kapur harus jadi guru dulu hahaha.

Jawaban waktu SMP:
Interior Designer, cuma karena suka main the sims, di tengah pelajaran membosankan suka bikin denah rumah-rumahan, dan sejak suka beli majalah tentang rumah dan furniture-furniture rumah (karena kalo jadi arsitek, gue cuma tertarik dengan interior).
Penulis. sejak suka membaca novel-novel teenlit yang rata-rata dikarang oleh anak belasan tahun, it seems so easy. Dan Ayah selalu bilang kalau jadi penulis itu enak, kerjanya bisa dimana aja, dan selama bukunya dicetak terus kita terus dapat honor.
Psikolog. Gue suka menganalisis hal-hal sosial sekitar gue dan mencoba memahami karakter orang lain. Pernah satu ketika di pelajaran konseling di Bimbel gue menuliskan keinginan gue masuk Psikologi plus motto, "Kalo orang lain bisa kenapa gue nggak bisa?" (padahal motto itu ngasal dan tiba-tiba aja kecetus di otak) tau-tau guru bimbel ngehampirin gue ngajak salaman dan ngomong, "Saya yakin kamu bisa masuk Psikologi UI 2009!" hahaha tebakan bapak salah deh!
Bahkan sempat pengen jadi.... pemain film! Nggak tau, sepertinya enak cuma akting terus dapet uang banyak hahahaha.

Jawaban waktu SMA:
Bekerja di redaksi majalah. Gue adalah penggemar majalah remaja kala itu dan sepertinya bekerja di media massa itu fun. Makanya waktu SMA kelas 1 semester 1 nggak begitu peduli dengan nilai IPA gue, karena untuk sekolah komunikasi massa gue bisa masuk IPS.
Sempat berfikir mau jadi dokter gigi terutama bagian ortho, karena setelah masuk IPA gue nggak mau belajar IPS lagi untuk masuk PTN. Dan pilihan selain Teknik Informatika, yaa palingan FKG.
Dan satu hal yang benar-benar bikin gue ngotot masuk IPA, pengen masuk IT. Padahal nggak tau mau jadi apa, yang gue tau cuma pengen jadi Web Designer terus ngeliat bokap gue yang kerjanya fleksibel, bisa di kantor, bisa usaha sendiri, bisa masuk instansi mana aja seperti Akutansi dan Ekonomi.



.......



Dan ya, berakhirlah saya disini. Di Teknik Informatika. Dengan IPK yang tidak tinggi, tapi masih berusaha bertahan. Kemana cita-cita saya yang segudang dulu? Tidak, mereka tidak hilang begitu saja. Banyak pertimbangan untuk kesana seperti: gaji yang tidak seberapa, nggak sanggup kalau harus gambar-gambar perspektif, susah kerjanya, faktor luck, sekolah yang mahal, peralatan yang mahal, dll. Karena keterbatasan ekonomi untuk ikut segala macam tes mandiri PTN, gue cuma ikut SNMPTN aja, dengan pilihan gila (STEI ITB no 1 dan Sisfo UI no 2), sempat apply PMDK untuk IPB tapi pada akhirnya nggak dapet juga.

Lalu sekarang cita-cita gue apa? Gue cuma mau menyelesaikan kuliah dengan baik, bekerja beberapa tahun, mengambil beasiswa S2 bidang bisnis dan manajemen ke luar negeri atau di dalam negeri tapi berusaha di PTN, bekerja lagi sebagai karyawan, punya bisnis, bahkan sempat terfikir untuk jadi dosen. Semua cita-cita gue sebelumnya bisa dicakup disana.

Inilah akhirnya gue, duduk di universitas swasta. Sempat diragukan keseriusan gue sama bokap karena beliau tidak yakin gue betah berkutat dengan Matematika, karena gue tidak tau tujuan gue akan jadi apa. But I take the risk, I gotta deal with Math. I gave up with drawing, too scared with animals, but I brave enough to face Math thingy. Gue bisa mendesain rumah gue sendiri nantinya, gue bisa menulis kapan saja mengirimkannya kemana saja. Banyak cara untuk mencapai mimpi tersebut. Banyak kisah orang yang pada akhirnya bekerja tidak sesuai dengan jurusannya, atau sesuai dengan jurusannya tetapi masuk ke kantor yang sesuai dengan minatnya. Life is about to choose and take risk.

0 comments: