Mona Lisa Smile: Does She Really Smile?

, by Aqessa Aninda


Director: Mike Newell
Stars: Julia Roberts, Kirsten Dunst, Julia Stiles, Maggie Gyllenhaal, Ginnifer Goodwin
Rating IMDB: 6.1/10

Mona Lisa Smile menceritakan tentang Katherine Ann Watson (Julia Roberts) yang mengajar mata kuliah "History of Art" di Wellesley College, sebuah kampus yang konservatif di Massachusetts. Katherine ingin membuat sebuah perubahan untuk generasi Wellesley selanjutnya. Kathrine mengenal beberapa mahasiswinya dan ingin menginspirasi mereka untuk dare to reach their dream instead of get married soon. Lewat seni, Katherine menginspirasi para mahasiswinya untuk berani mengekspresikan diri mereka.
Empat mahasiswi Katherine memiliki masalah-masalahnya masing-masing. Joan Brandwyn (Julie Stiles) seorang mahasiswi 'straight A', ingin mengambil postgraduate school jurusan hukum di Yale. Katherine sangat mendukung Joan dengan mengirimkan berkas aplikasi law school. Namun akhirnya Joan memilih kawin lari dengan pacarnya dan tidak mengambil sekolah hukum tersebut meski dia akhirnya diterima disana. Ia bahagia atas pilihannya. Keinginan Joan adalah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya setelah ia lulus dari Wellesley.
Betty Warren (Kirsten Dunst) adalah yang paling konservatif seperti ibunya diantara mereka. Sering kali Betty kontra pendapat dengan Katherine dan pernah sekali menulisnya di editorial koran kampus. Betty menikah dengan Spencer (sesuai dengan tradisi perjodohan keluarganya) sebelum ia lulus dari Wellesley. Namun rupanya rumah tangganya tidak berjalan mulus.
Connie Barker (Ginnifer Goodwin) berkencan dengan sepupu Betty. Connie yang tadinya tidak percaya diri, akhirnya benar-benar merasakan jatuh cinta, sampai ketika Betty memberi tahu bahwa Charlie bertunangan dengan perempuan lain. Yang akhirnya ternyata Charlie telah menggagalkan pertunangannya ketika berkencan dengan Connie.
Giselle Levy (Maggie Gyllenhaal) berpandangan hidup liberal, sehingga ia sangat terinspirasi oleh Katherine. Kehidupan rumah tangga orang tuanya yang berantakan membuat Giselle kurang 'picky' dalam memilih pria dalam hidupnya. Ia pernah mempunyai affair dengan professornya dan menjadi wanita simpanan pria beristri.

Kalau saya menjadi mahasiswi Wellesley saat itu saya pasti terinspirasi dengan Kathrine Wilson. Independent woman, knows what she really wanted in her life. Di tahun itu tentu sulit bagi perempuan untuk mengemukakan keinginannya yang berbeda dengan tradisi pertunangan dan pernikahan. Pastilah yang 'beda' tersebut akan dipandang sebelah mata. Beruntunglah kita hidup di era 'proud to be a successful independent single woman', kita jauh lebih bebas untuk memilih karir ketimbang menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu di usia muda.


Hal ini biasa terjadi ketika kita mau memilih masa depan kita. Ketika orang-orang sekitar kita mulai 'memaksa' kita untuk mengikuti tradisi keluarga atau lingkungan. Kita punya hak untuk menjadi berbeda dengan sekitar (jika kita yakin). Katherine menginspirasi kita untuk memilih keinginan kita, yang mana ia menekankan bahwa setiap perempuan haruslah smart dan berkesempatan juga menjadi pemimpin (bukan hanya jadi istri seorang pemimpin). Pada jamannya, mengenyam pendidikan sampai sarjana S1 sangatlah tinggi dan membanggakan. Jangan jadikan gelar sebatas topeng bahwa kita bukan orang bodoh dan berkelas, manfaatkan gelar tersebut dengan sebaik mungkin. Sudah tahunnya kita perempuan muda bisa memanfaatkan gelar pendidikan kita dengan baik, tak perlu jadi pemimpin hebat, paling tidak gelar tersebut bisa menyenangkan kita. But if you choose to married in young age like Joan, that is okay, as long as it's one of your biggest dream.


Di era kita, sesuatu yang ingin kita raih tidak berarti harus dunia pendidikan saja, bisa juga passion kita di tempat lain. Apapun itu bentuknya untuk menjadi sukses. Pendidikan hanyalah sebagian modal untuk menunjang kita meraih mimpi-mimpi terliar kita. Selagi kita masih muda, single, dan tidak ada paksaan untuk menikah. Sebagai perempuan kita harus bisa mendesain mimpi-mimpi kita sesuai timeline, agar mimpi kita lebih terarah. Dosen Pengantar Bisnis saya pernah mengatakan bahwa sebagian besar perempuan sukses di mid-20 karena mereka kebanyakan mimpinya lebih terancang jelas dibanding laki-laki. Menikah tentu adalah impian setiap perempuan, tapi tentunya kita harus memikirkan matang-matang soal itu. Tentu kita sebagai perempuan ingin taraf hidup yang baik dan anak-anak kita memiliki pendidikan yang terbaik kelak. Sudah eranya perempuan pintar setara dengan laki-laki, punya hak untuk memilih keinginannya, independent dan meraih mimpi setinggi mungkin. Bukan berarti kita perempuan melupakan kodratnya sebagai seorang (calon) istri dan ibu. Perempuan bukan hanya penghias rumah tangga, tapi juga penyemangat; penyokong, dalam meraih mimpi terindah keluarganya.

0 comments: