3 Hati 2 Dunia 1 Cinta: Sebuah Bentuk Pluralisme Sederhana

, by Aqessa Aninda



Judul: 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta
Sutradara: Benni Setiawan
Pemeran: Reza Rahadian, Laura Basuki, Arumi Bachsin, Ira Wibowo, Robby Tumewu, Henidar Amroe, Rasyid Karim, Zainal Abidin Domba



Disini saya nggak mau mengulas film dari segi 'dunia perfilmannya'. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta bisa jadi film yang mengangkat tema pluralisme dengan cerita cinta yang cukup baik. Dibandingkan dengan film '?' (Tanda Tanya) yang memang berakhir penuh tanya.


Berkisah tentang Rosyid, pemuda Betawi-Arab yang menjalin cinta dengan Delia (keliatannya sih campur-campur ada Tionghoa dikit sama Menado ya?). Cinta mereka terhalang dengan keyakinan yang berbeda sehingga tidak mendapat restu dari orang tua. Film ini bernuansa drama komedi, jadi cocok ditonton untuk santai dan nggak perlu banyak mikir.

Baca-baca review di blog tetangga, ada yang berpendapat bahwa ending film ini kurang berani. Ada juga yang bilang kalo film ini nggak mencontohkan seorang muslim, telalu global dsbnya lah (mungkin pengennya film cinta kayak Ayat-Ayat Cinta kali yaa -_-).
Mungkin memang terkesan tidak berani mengambil ending Delia masuk agama Rosid atau Rosid yang masuk agama Delia. Tapi menurut saya ending tersebut bisa dibilang manis. Kenapa? Karena keduanya adalah orang-orang yang cukup taat terhadap agamanya masing-masing. Kemungkinan kecil bahwa salah satunya akan pindah agama, dan penonton benci sad ending. Pilihan mereka adalah ikuti air mengalir, toh mereka masih muda, belum tentu juga berjodoh. Di akhir film dituliskan dengan siapa akhirnya mereka menikah. Ketiganya punya jodohnya masing-masing.

Terlalu global? Liberal? Karena melawan orang tua? Menurut saya realistis. Film bukan hanya menggambarkan segala kebaikan, yang bijak, contoh harus seperti apa kita. Film adalah menggambarkan bagaimana tokohnya terjatuh ke lubang gelap dan berhasil keluar dan menjadi lebih bijak. Sama seperti kita, manusiawi. Kamu mau tokoh lelaki sempurna seperti Fahri Ayat-Ayat Cinta? Rasanya seperti menonton dongeng Cinderella, dimana keduanya sempurna dan cinta mereka begitu suci... naif.

Realistis ketika kita jatuh cinta dengan orang yang jelas berbeda dengan kita. Tidak masuk akal rasanya. Tapi begitulah ketika kita jatuh cinta, terkadang kita tidak bisa memilih. Adalah ketika kita merasa benar, ketika kita merasa sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan dan merasa punya hak untuk mengambil keputusan, untuk tidak membiarkan orang tua mengontrol hidup kita. Ketika kita masih muda tentu banyak godaan untuk menentang orang tua karena tak sejalan, takut jika orang tua mengontrol hidup kita, idealis, naif, sok. Tanpa sadar, orang tua kadang memang tau yang terbaik untuk kita. Mereka sudah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari kita.


Inilah pelajaran yang dipaparkan film ini, bahwa kita anak muda senantiasa merasa bahwa kita sudah tau apa pilihan-pilihan hidup kita. Walau sebenarnya kita pun masih mencari. Orang tua juga tidak perlu mengekang anaknya, biarkan kita bebas, tapi tetap tugas orang tua adalah 'memegang buntut kita'. Ketika Rosid yakin bahwa pernikahan beda agama itu dibolehkan, orang tua yang bijak tentu mengingatkan betapa beratnya pernikahan. Kita seringnya lupa, bahwa cinta bukan hanya sekedar fantasi atau romantisme. Bagaimana jika dalam rumah tangga ada hal beda prinsip, beda pendapat saja berat.

Bukan, saya bukan kolot atau ngurusin masalah hubungan orang. Semua itu pilihan kita. Tapi dunia sosial dan aqidah tetap saja nggak bisa disatukan. Harus ada pembatas. Ini melihat agama secara modern tapi tetap berpegang pada ajarannya. Ini adalah pluralisme, tapi tidak liberal. Mengingatkan tapi menghargai.



  • Rosid (Reza Rahadian): "Apa benar Allah melarang pernikahan beda agama?"
  • Ami / Paman / Ayah Mahdi (Haddad Alwi): "Emang situ Tuhannya siapa?"
  • Rosid: "Allah"
  • Ami: "Di islam, kalau laki-lakinya muslim ada yang boleh. Ada juga yang nggak boleh. Tapi kalau laki-lakinya non muslim banyak yang nggak boleh. Nah, Rosid apa udah paham bener agama Rosid? Doa Rosid? Jangankan Osid, Ami yang udah seumuran begini belum berani jawab, Sid. Ami terus mencari, belajar memperbaiki diri. Karna Masya Allah, Sid, kita belum ada seujung kuku ngejalanin perintah agama kita dengan benar. Maksud Ami, Sid, kalau Osid belom paham bener, jangan dulu sok pintar, sok tau, atau buat kesimpulan sendiri tentang agama kita."
  • Rosid: "Harusnya Abah denger ini. Kadang-kadang Abah suka sok tau."
  • Ami: "Sama kayak Rosid, Osid tadi yakin banget kalau nikah beda agama itu boleh. Positif thinking, Sid, bukan cuma dari segi agama, dari segi aspek lain juga. Osid pikirin dengan mata batin Osid, istikharah kalau perlu. Karena yang bakal Osid jalanin ini nggak main-main. Yang seagama aja berat, apalagi beda."

0 comments: