1-70

, by Aqessa Aninda

Kalau hidup kita terdiri atas puluhan atau ratusan lantai, apa yang akan kita lakukan?

Sudah sekian lama ia membuntutiku. Aku tidak suka! Dia seperti serangga pengganggu bagiku. Akan tetapi, meski dia serangga, dia tak beracun. Keberadaannya hanya mengganggu ruang gerakku. Dan kini ia duduk bersama dengan orang tuaku, menikmati makanan penutupnya. Wajah kesalku tak dapat kututupi, dan dia tak peduli. Seakan aku ini hanyalah angin sore yang berhembus di sampingnya.

Bagi orang tuaku, ia bukan serangga. Ia malah seperti rintik hujan yang membasahi pekarangan kami yang gersang. Ia memang tak bertingkah seperti serangga pengganggu di depan orang tuaku, itulah mengapa orang tuaku menyukainya. Tetap saja bagiku dia tak lebih dari seekor serangga. Matanya seolah selalu menangkap keberadaanku, senyumnya seolah merusak zona nyamanku. Dan aku terjebak disini karena orang tuaku. Sebisa mungkin aku mencari alasan untuk keluar dari area ini.

***

Aku berlarian mencari elevator dan menuruni puluhan bahkan mungkin ratusan anak tangga. Dan sekarang aku jatuh dari plafon reyot. Kulihat itu barisan buku-buku tua di rak, mataku kemudian berputar mencari pintu keluar. Aku menemukannya! Aku pun berlari membukanya dan menemukan tangga lagi. Dengan cepat aku menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu dan berputar itu.

Nafas ku tersengal-sengal seperti habis diburu macan. Aku melewati tumpukan kardus-kardus yang berserakan di beberapa anak tangga terakhir. Ini..... warung sushi? Familiar sekali. Seperti milik keluargaku waktu...... dulu. Memori! Ya, aku yakin ini adalah memoriku! Aku ingat betapa kerasnya hidup kami waktu itu, sehingga kami harus bergonta-ganti bisnis kecil dan menjadikan lantai paling bawah rumahku sebagai tempat umum. Tempat kami mencari nafkah. Hatiku rasanya bagai tersengat listrik. Teringat bagaimana bahagianya keluarga sederhanaku.

Aku pun menuruni anak tangga terakhir. Minimarket. Ini adalah minimarket kami. Kulihat seorang gadis disana, membereskan tatanan makanan di rak pendingin. Umurnya mungkin sekitar 17 tahun. Kemudian datang seorang pemuda seumurannya. Tersenyum melihatnya, menarik nafas, kemudian menyapanya. Senyum kecil lembut, matanya memancarkan rasa yang tidak akan pernah mati. Namun gadis itu membalas sapaannya dengan ketus. Pemuda itu tidak mengacuhkan kekasaran gadis tersebut. Malah sebaliknya, ia menggoda gadis tersebut. Si gadis semakin marah dan mengusirnya. Matanya masih terpaku pada gadis tersebut, bibirnya menahan rasa yang makin merekah dalam dadanya, yang keluar hanya sesimpul senyum. Ia menyerah, hari itu. Kemudian pemuda itu keluar dan meninggalkan si gadis pemarah. Gadis itu tidak peduli. Tidak pernah peduli. Karena ia tidak pernah mengerti rasanya. Hatiku terenyuh melihat scene tadi.

Pemuda itu mungkin menyerah hari itu. Namun ia tak pernah menyerah hingga detik ini. Meski gadis itu tak pernah peduli atau mencoba peduli, meski gadis itu tak pernah mengerti, meski gunung es yang dibangun gadis itu tak pernah mencair. Tidak sedetikpun pemuda itu menyerah. Namun setelah hari ini, ia berjanji akan menyerah. Karena gunung es itu tak pernah mencair sampai beberapa menit yang lalu, sekalipun kobaran api yang ia buat sangatlah besar. Sekali lagi, aku terenyuh. Jika ini sebuah film, pasti akan keluar musik latar beralunan gitar akustik dan hujan yang turun.Tapi ini hanyalah memori. Ini adalah lantai paling dasar. Aku tau harus kemana aku melangkah sekarang. Kembali. Dan mereka ada di lantai 70, sementara elevator disini hanya sampai lantai 30. Giliran aku yang harus berjuang.

Aku sudah di lantai 30, aku menaiki ratusan anak tangga, nafasku memburu, aku tak boleh menyerah. Bertahun-tahun ia tak menyerah, meski aku tak pernah memberikan balasan yang sepadan. Aku melewati orang-orang yang berlalu lalang di tangga. Ini baru lantai 50. Aku menemukan elevator lain di sudut gedung, di samping sebuah restoran siap saji. Aku menunggu di depan elevator itu. Mataku memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar tangga. Kemudian suara ibuku memanggilku. Lega sekali rasanya menemukan mereka bertiga. Seperti telah mencapai finish di sebuah perlombaan lari. Aku menghampiri mereka. Kami akan segera pulang.

Kutatap matanya dalam-dalam, kubalas senyum kecilnya. Degup jantungku tak dapat kutahan temponya. Mereka berlomba-lomba mengetuk rongga dadaku seperti ingin keluar dari tubuhku. Nafasku memburu, bukan karena berlarian menaiki tangga. Inikah rasanya? Rasa yang ia rasakan ketika ia pertama kali melihatku di supermarket itu? Ia tersenyum lebih lebar dari yang sebelumnya. Kutatap lagi matanya. Mata itu yang pertama kali memandangku berbeda dengan perempuan lainnya. Mata itu pula yang membuat aku yakin bahwa aku sedang merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan waktu pertama kali ia bertemu denganku. Perjuangannya selama 5 tahun ini terbayar sudah.

0 comments: