Saya mau bercerita tentang pengalaman saya menggunakan
transportasi umum di Jakarta, khususnya tentang bus antar kota. Rumah saya
berada di daerah Bekasi dan sehari-hari saya menggunakan bus kota untuk
beraktifitas.
Ceritanya, Sabtu kemarin saya dan R naik bus patas AC 05
jurusan Bekasi Barat – Blok M. Dan malam itu (sekitar jam 7 atau 8) rupanya
masih ramai penumpang yang hendak pulang ke Bekasi. Daripada kemalaman, kami
naik saja walaupun harus berdiri sepanjang perjalanan. Toh AC-nya lumayan
kencang juga. Tapi yang buat saya kesal naik angkutan umum patas begini, kenek
atau supirnya selalu menyuruh kita untuk terus berdiri ke tengah, sehingga
semua orang bisa masuk. Bukan menyuruh sih, lebih tepatnya terus memaksa kita
untuk berdiri ke tengah bus, berrrrkali-kali mereka nyuruh kita. Padahal isi di
dalam sudah padat sekali. Belum lagi nanti pengamen yang berada di tengah,
sedikit mengganggu kenyamanan dalam bus. Lalu, nanti si kenek akan berjalan
dari depan ke belakang menerobos padatnya penumpang yang berdiri di
tengah-tengah karena tidak kebagian tempat duduk itu. Menyebalkan bukan? Kami
tidak masalah berdiri sepanjang jalan, tapi jangan perlakukan kami kayak barang
yang dipaksa untuk bertumpuk-tumpuk dalam ruang sempit! Lagipula, kalau
kapasitas bus tersebut melebihi yang seharusnya juga membahayakan bukan? Saya
sampai bingung, kenapa sih mereka ini suka maksa untuk menuh-menuhin bus kalau
memang sudah tidak muat lagi? Apa bayaran mereka kurang? Kejar setoran? Atau
kasihan sama yang nunggu di halte?
Saya pernah naik bus patas P6 (setelah Busway koridor IX
beroperasi patas ini tidak ada lagi) jurusan UKI-Grogol. Waktu itu pagi-pagi
sekitar jam 6 pagi saya mau berangkat ke kampus. Seperti biasa, kenek dan supir
memaksa penumpang yang berdiri untuk terus memadatkan bus ke tengah, padahal
bus sudah padat banget! Sampai akhirnya ada bapak-bapak marah ngebentak si
kenek, “Mau ke tengah gimana lagi?! Nggak liat udah padat gini?!!” Walau tetap
nggak bergeming, emang harus digituin kali ya sekali-kali?
Teman saya, pernah naik bus Jepang nomer 46 (dulu sebelum
Busway koridor IX trayeknya UKI-Grogol juga). Bus ini terkenal paling gila
supir-supirnya dalam menyetir. Sabet kanan-kiri, ngerem mendadak, gokil lah.
Dia cerita, waktu dia naik bus ini, supir ambil jalur busway. Terus, si supir
ini mau pindah ke jalur biasa nggak nunggu jalur busway itu keputus, iya langsung
pindah dari trotoar jalur busway! Dengan postur bus yang suka miring itu sih,
ngeri ya kalo dipikir-pikir. Terus keneknya ngomong sama supirnya, “Tahan ya
rem-nya! Kalo nggak kebalik ini!” Kebayang nggak sih ngerinya?! Spontan semua
penumpang panik lah pada baca-baca doa! Untung nggak kebalik jadinya! Oh ya,
temen saya ini juga pernah loh jadi korban pan*atnya digesek-gesek sama
bapak-bapak mesum menjijikan!
Naik busway? Jujur aja saya capek nungguinnya (dan naik
tangga penyeberangannya sih hehehe). Terutama koridor IX, lamaaa banget! Entah
apa yang bikin Grogol dan Tomang itu parah banget macetnya. Padahal kalau
dihitung-hitung bus koridor IX itu udah banyak banget. Nunggunya bisa hampir
30-60 menit, shelter udah padat, bus datang cuma satu sampai dua, itupun udah
padat banget. Nggak jadi aman dari kriminal juga kayak pencopetan atau pelecehan
seksual. Tapi saya setuju dengan program “Ladies Area” nya Transjakarta, yah
paling tidak kita nggak nempel-nempel sama laki-laki deh (cocok juga tuh buat
yang islamnya totok banget yang anti bersentuhan sama bukan muhrim hahaha).
Yang bilang peraturan “Ladies Area” ini bikin kita (perempuan) nggak dewasa
atau nggak independen, pasti belom ngerasain rasanya digesek-gesek sama
laki-laki mesum yang menjijikan.
Berbagai macam orang ada di angkutan umum Jakarta, khususnya
bus. Pengalaman lain saya antara lain ketemu preman yang jadi pengamen terus
minta duitnya secara nggak langsung maksa, preman yang beraksi ‘debus’ pake
silet, nyaris dicopet (tapi alhamdulillah kepergok dan dia ngurungin niatnya), pengamen
yang mukanya kena tumor street dance di bus, sampai diturunin seenaknya sama supir
(nggak di tempat yang bener dan nggak full stop kendaraannya kan bahaya).
Sejatinya, angkutan umum haruslah nyaman dan aman ya. Yang
saya kurang suka dari angkutan umum ya buang waktu untuk nunggunya itu, bikin
susah tepat waktu, kita jadi harus berangkat lebih cepat dari rumah. Aman?
Harus! Ini menyangkut nyawa dan hak keselamatan & kesehatan kita. Nyaman?
Hmm.. menurut saya ini susah. Coba bayangin, dari Grogol sampai UKI kita cuma
bayar Rp 2,000. Nggak mungkin kan di fasilitasi AC dan mau nggak mau harus
bercampur dengan orang-orang dengan strata sosial tertentu. Tapi coba liat
kalau naik patas AC 29 (Bekasi Barat-Kalideres), bayar Rp 7,000 (yang mana
termasuk harga tertinggi untuk ukuran patas AC yang harusnya cuma Rp 6,500
karena tolnya sama), tapi AC-nya nggak berasa, kadang bocor malah, udah nggak
layak banget busnya. Padahal penumpangnya selalu padat, uang untuk
pemeliharaannya kemana ya? Ingat cerita anak Trax di twitter yang liat orang
dibunuh di kereta? Kerta juga gitu, kereta ekonomi cuma Rp 1,500. What do you
expect? Saya pernah naik dari Bekasi ke Stasiun Kota, isinya penuh tukang
jualan dari sayur sampe jepitan-jepitan perempuan. Ya wong cuma Rp 1,500 gitu.
Semakin lama, saya semakin tau selahan gimana biar bisa
nyaman di jalan. Angkutan umum yang nyaman dan aman itu banyakan rutenya yang
ke Sudirman (Blok M atau Tanah Abang), karena supaya mereka laku sama orang
kantoran. Makanya sekarang rute saya sering ke Sudirman dulu untuk ngejar bus
yang langsung ke Bekasi Barat daripada harus jadi pepes di patas-patas dari
Grogol atau sakit hati nungguin Busway (iya, rasanya tuh kayak nungguin yang
nggak pasti tau nggak! :p). AC 05 juga mulai bagus semenjak banyak pesaingnya
kayak Trans Kemang Pratama, AC 05A Harapan Indah, Trans Galaxi, yang jauuuh
lebih nyaman (karena isinya banyakan orang kantoran) meskipun lebih mahal. Buat
saya sih mahal sedikit beda 2000-3000 yang penting nyaman dan bisa tidur ya
nggak papa lah. Berdiri di bus-bus feeder komplek pun lebih enak daripada bus
patas biasa, ya nggak ada yang suka maksa-maksa ke tengah sih, dan bebas pengamen
(kadang malah dikasih bangku bakso untuk duduk).
Nah, menurut saya, supaya masyarakat kelas menengah yang
bisa beli banyak mobil itu mau naik angkutan umum (biar nggak padat-padatin
jalanan Jakarta), harus di support bus-bus kelas menengah juga (atau kereta)
yang aman, nyaman dan kalau bisa sih nggak buang waktu untuk nunggu lama.
Supaya mereka mau naik angkutan umum. Toh, kayak feeder-feeder busway dari
komplek pinggiran Jakarta itu biayanya Rp 10,000 sampai Rp 12,000 penuh terus
kok tiap hari. Pembagian kelas sosial ini emang nyata adanya, jadi jangan sok
bilang nggak berbaur, nyatanya dalam kondisi tertentu memang terlalu malas
untuk berbaur. Bus-bus yang cuma 2000-an yaa yang penting supirnya aja sih
dididik untuk nyetir yang aman.
Kemarin liat baliho tentang rencana pembangunan jalan layang
di daerah Gatot Subroto, gimana pada mau naik angkutan umum, daripada support
perbaikan angkutan umum rupanya lebih manjain masyarakat untuk naik kendaraan
pribadi. Sampai kapanpun kepadatan akan terus bertambah juga.
Saya sendiri nggak munafik, nggak akan nolak sih untuk naik
kendaraan pribadi kalau punya mobil lebih dari satu. Tapi kadang naik
transportasi umum bisa lebih cepat kok, karena kalo udah kepepet bisa turun
terus naik ojek hehehe. Kalau naik mobil? Mau tinggalin mobilnya ditengah jalan
pas kejebak macet? Tapi kalau kondisi transportasi umumnya begini, kemana
tempat kita mengadu untuk dapat hak keamanan dan kenyamanan di transportasi
umum?


2 comments:
Kamu perhatiin deh Cha kalo lagi naik Transjakarta terus lagi dibagian cewek-cewek, ada grammatical error disana. Tulisannya Ladie's Area hahaha XD
Wahahaha iya? nggak merhatiin! besok-besok liat ah. dasar anak sastra inggris, radarnya cepet banget kalo ada grammatical error ;P
Post a Comment