(Book Review) Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

, by Aqessa Aninda


After looking for this book for a very very very loooong time, I finally found it in some online shop. :))
Seribu Kunang-Kunang di Manhattan adalah kumcer Umar Kayam pertama yang gue baca. Sejak baca reviewnya di blog Friendster nya Kanya beberapa tahuuuuun yang lalu (iya, Friendster, kebayang kan tahun kapan?) saya langsung jatuh hati. Kumcer ini terdiri atas 10 cerpen karya Umar Kayam dari tahun 60-an sampai 80-an (4 terakhir bisa dibilang novelet sih? Atau cerpen yang kepanjangan), enam diantaranya ber-setting di New York, USA, empat sisanya berlatar belakang kemelut politik Indonesia di tahun 60-an sampai 80-an.

  1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
  2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa 
  3. Sybil 
  4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat : 
  5. Chief Sitting Bull
  6. There Goes Tatum
  7. Musim Gugur di Connecticut
  8. Bawuk
  9. Kimono Biru Buat Istri
  10. Sri Sumarah

Enam kisahnya bercerita tentang begitu tidak pedulinya kota Manhattan. Manhattan is like a giant creature, eating the society. Orang-orang tua yang tidak peduli dengan anak-anak mereka, tenggelam dalam kesibukan kota. Tetangga-tetangga yang tidak peduli dengan tetangganya. Wanita yang rindu akan belaian kasih sayang. Orang tua yang bertingkah seperti anak kecil. Serta pemuda Indonesia yang meski jauh merantau di tanah kebebasan yang menjanjikan, the city that never sleep they said, ia merindukan tanah airnya.

Empat kisah lainnya bercerita kemelut dunia politik di Indonesia tahun 60-an. Tentang permainan politik, suap menyuap secara halus. Tentang kerinduan akan sedikit kebebasan sederhana, merasakan hangatnya pelukan sang istri, tentang kebahagiaan sederhana mendengar pergerakan si jabang bayi dalam rahim sang istri. Tentang keikhlasan perempuan-perempuan yang suami atau anaknya memilih jalan sebagai aktivis PKI. Tentang bagaimana priyayi bertutur dan berserah pada Tuhan. Tentang bagaimana kesetiaan seorang istri yang hanya menginginkan suaminya dan kebebasan akan hidup. Tentang kepolosan wanita desa. Tentang ibu-ibu yang berjuang. Dan tentang berserah diri.

Untuk ukuran tulisan jaman segitu, Umar Kayam bisa dibilang cukup 'metropop' pada jamannya hehehe. Mungkin satu-satunya cerpen jaman itu yang terdapat kata 'superb' dan 'sophisticated', atau reaksi, "So what?" hahahaha. Bahasanya sangat lugas, nggak bertele-tele, nggak mendramatisir. Kalau baca, akan terasa sekali logat Jawa kental dalam penuturannya. Saya tenggelam membaca kumcer ini, ikut sedih waktu Tono ditahan pada cerpen "Musim Gugur di Connecticut".  Atau kepasrahan dan kepolosan Bu Sri pada "Sri Sumarah". Juga galaunya Bawuk waktu ia mencari suaminya yang ditangkap, serta galaunya Nyonya Suryo waktu anaknya pergi cari suaminya dalam "Bawuk".

Entah kenapa buku ini nggak masuk daftar list sastra yang bagus untuk dibaca, karena susah banget nyarinya even di public library sekalipun di Jakarta (saya sih survey di internet, di web pencarian buku secara online gabungan beberapa public national library di Jakarta). Apa mungkin karena latarnya PKI gitu? Jadi kurang di rekomendasikan? Atau karena beberapa ceritanya memang diperuntukkan genre dewasa jadi nggak masuk dalam silabus mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia?

Quotes:
"Oh, Tuhan yang baik dan agung. Untuk kesekian kali Kau buktikan bahwa ciptaan-Mu bernama manusia adalah ciptaan-Mu yang paling kreatif, elastis, dan ekspansif. Dalam keadaan netral dia minta jumper, dalam keadaan nrimo dia minta Topaz, dalam keadaan putus asa dia minta apa saja, dalam keadaan optimis dia minta kimono.."

"Perempuan bukan sekali itu saja minta untuk sekedar minta. Ingin dimiliki. Bukankah dulu Sembadra minta gamelan Lokananta dari surga kepada Arjuna juga untuk sekedar memilikinya? Dan Arjuna memberinya? Kalau suami--laki-laki yang dititipi oleh nasib untuk sementara menjaga perempuan--itu tidak mengerti akan permintaan seperti itu, lebih baik dia mengembalikan mandat kepada nasib dan bersedia menerima nasib yang berbeda."

"Calon sarjana yang baik dan jujur itu mesti mencoba selalu terbuka sikapnya karena itu semua buku, teks atau bukan, kiri atau kanan, mesti dibaca.."

"Ah, ya. Nasi bungkus itu akan selalu mesti dibeli dan dibagi kapan saja, Mus. Bentuknya bisa lain-lain, ukurannya bisa lain-lain. Tapi politik, ah, apa saja, juga dagang, juga perang, semua ada urusannya dengan nasi bungkus itu."

"Sebab pertanyaan 'mengerti' tidak untuk dijawab mengerti karena 'mengerti' adalah mencari untuk mengerti"

0 comments: