Jakarta-Bekasi Hari Ini

Dan aku kembali menjejakkan kakiku ke sebuah bus hijau tak ber-AC. Dengan jok yang sudah usang, di sebelah bapak tua. Masih setia dengan bakinya. Entah apa isinya. Besar, penuh, menghalangi jalan.
Kemudian anak laki-laki. Mengamen. Hanya bermodalkan botol aqua dan beras. Selesainya, ia tertawa dan bercanda dengan temannya. Tersenyum. Polos. Menggoyang-goyangkan recehan di dalam bungkus kertas yang ia dapatkan hari ini. Katanya hari ini dia dapat banyak. Banyak? Itu hanya recehan, sampai 5 digit juga tidak. Miris kalau mengingat candanya dan senyum polosnya. Merasa tersentil. Kita? 5 digit saja dibilang sedikit.

Kemudian di belahan Jakarta yang lain. Anak-anak remaja, merengek-rengek meminta gadget baru. Dengan nominal harga lebih dari 7 digit. Merengek-rengek ingin beralaskan kulit dan label. Merengek-rengek ingin belanja sesuatu yang baru demi kebutuhan tersier mereka. Berpesta, hilang kesadaran hanya karena satu atau dua teguk air 'haram'. Tidak peduli kelas apa hari ini. Tidak pernah sadar bahwa orang yang dirong-rongnya menabung demi mereka. Tidak pernah mengerti arti 3 atau 4 digit untuk orang di belahan Jakarta yang lain.

Sungguh, tidak sembunyi dibalik sebuah besi baja milik sendiri membuka mata dan nurani yang sudah lama tertidur. Seperti itulah hidup. Seperti itulah kotamu.

No comments:

Post a Comment

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com