A Thousand Journey


Innsbruck. Kamu tentu tau tujuanku. Kereta ini membawaku dari St. Anton am Arlberg Station ke Innsbruck Stubatial Station. Kepalaku menempel pada jendela kereta, kunikmati pemandangan di sampingku. Perjalanan ini sudah seperti perjalanan meninggalkan masa lalu.

Masa lalu. Buatku si kepala batu, masa lalu bukan sesuatu yang harus kulupa. Kekeuh, aku merasa bisa membiarkan masa lalu hanyalah sebuah kenangan semu nan dingin. Semakin sakit, semakin kuingat. Layaknya luka di tubuhku, semakin aku bergerak, semakin terbiasa. Perjalanan di kereta ini seperti sebuah perjalanan yang tepat mengenangnya kemudian menyimpannya rapat-rapat. Tapi nyatanya, ke sok-tahu-an-ku malah menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Aku malah terhanyut, larut, tenggelam bersama kenangan-kenangan itu. Layaknya udara Eropa hari ini, kenangan-kenangan itu dingin, namun aku rupanya tak pernah kuasa untuk beranjak. Masih dengan kepala batuku, menurutku ini proses. Manis pahit aku terima, kadang aku tersenyum, kadang rasanya teriris. Aku masih percaya bahwa sebenarnya aku melangkah perlahan, seperti mencoba berenang ke permukaan. Aku pikir dengan kabur ke benua yang berbeda dapat lebih mudah untuk menerima, ternyata tidak juga. Malah rasanya dua kali lipat. Rindu tapi tak dapat ku jamah, perih namun tak dapat ku tahan.

Rupanya lebih perih mengingat mimpi-mimpi yang pernah kau bangun dibanding mengingat satu potong kisah yang membuat mimpimu hancur lebur. Aku tersenyum hampa tiap bayangan itu mampir, kurengkuh tubuhku sendiri, rasakan hatiku menciut. Fikiranku terus mendikte hatiku, bahwa kenangan itu memberi tahu bahwa betapa naifnya aku dulu. Perasaan yang murni antar lawan jenis hanyalah fantasi setiap anak perempuan. Akan ada saatnya itu datang pada kita, dengan cara yang berbeda, realistis, murni, dan bukan hanya romansa serta fantasi. Dia, ksatria dalam fantasiku itu, sudah menemukannya. Dan aku malah lari, dengan alasan untuk melangkah ke depan, ternyata langkahnya lebih cepat daripada langkahku.

Kereta berhenti sebentar di Ötztal railway station. Aku membuka jendela dan mengeluarkan kepalaku. Aku butuh oksigen lebih banyak setelah apa yang kualami sepanjang perjalanan. Kurasakan partikel-partikel O2 yang masuk ke paru-paruku. Kupejamkan mata dan menarik nafas lebih dalam, kuhadapi dinginnya Eropa di depanku, kurasakan semua partikel-partikel itu bereaksi cukup cepat pada kenangan-kenanganku. Bak trailer film yang scene-scene nya berubah dengan cepat, sangat cepat. Aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku disana. Aku menoleh. Jantungku melonjak, seperti mau keluar dari dadaku. Aku merasa hatiku rasanya seperti menyusut. Mataku mulai berkaca-kaca.

Dia. Ksatria dalam fantasi masa mudaku. Berdiri disana, mengabaikan rokoknya, menatapku tak berkedip. Waktu seperti berhenti. Hanya ada aku dan dia, dan kami hanya berpandangan. Aku sibuk menata laju darahku. Perlahan kereta berjalan. Aku masih menatapnya nanar. Ia berlari, berusaha mengejar keretaku, matanya masih menatapku, seolah tak ingin terlewatkan lagi. Aku pun tak bisa membendung air mataku lagi. Hingga akhirnya ia tak kuat mengejar laju keretanya. Ia berhenti, matanya tegas menatapku, ia menyerah, saat itu. Aku masih menatapnya dari kejauhan hingga ia hilang dari pandanganku. Semakin deras, semakin keras pacuan jantungku. Memang kenangan pedih itu bangkit, tapi mereka hanyalah kutu-kutu kecil dibandingkan secercah harapan di depanku. Aku yakin harapan itu ada.

Dulu aku merasa mimpiku tidak direstui Tuhan. Kuyakinkan diriku mimpiku hanyalah bagian dari fantasi masa mudaku. Aku kabur untuk melangkah, mengobati, menerima. Ternyata Tuhan hanya menundanya, merubah fantasi itu menjadi realita.

"They say when you meet the love of your life, time stops, and that's true. What they don't tell you is that when its starts again, it moves extra fast to catch up." -Big Fish

No comments:

Post a Comment

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com