Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam

Sahabatku, usai tawa ini izinkanku bercerita..
Telah jauh, kumendaki
Sesak udara diatas puncak khayalanJangan sampai kau disana

Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini

Yang hanya ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik: "Pandang aku, kau tak sendiri, oh, Dewiku"
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang Itu saja kuinginkan


Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji
 
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku.."
Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

"Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi"

"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau pukul berapa pun langsung datang. Keinginan itu... tidak ketinggian kan?"

"Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam."

"Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku.
'Kamu sakit?' Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas.
'Ya.'
'Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?'
'Ya.'
Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih."

(Curhat Buat Sahabat, Rectoverso, Dee Lestari)

No comments:

Post a Comment

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com